Sunday, July 15, 2007

Cerita ini sebenarnya udah cukup lama, ketika gw ke jepang bulan mei lalu. Karena gw begitu males jadi lon gw tulis-tulis di sini. Oke kita mulai aja ceritanya, jadi cerita ini dimulai ketika acara gw sudah kelar dan gw bermaksud extend lagi tapi krn hotel gw yg pertama harganya selangit maka gw bermaksud pindah hotel.

Jadi pas gw check out bawa koper setengah mampus beratnya dan untuk mencapai hotel yg lebih 'gembel' itu gw harus naik kereta bawah tanah (subway). Gk ada temen pula waktu itu bener2 kesepian gw sendirian doank. Nah jadi klimaksnya ketika gw udah di dalem keretanya. Nah kebetulan waktu gw masuk keretanya masih kosong jadi gw dapat tempat duduk. Setelah beberapa stasiun akhirnya kereta mulai penuh dan banyak org berdiri.

Di depan gw berdiri seorang pria anak muda gitu. Tentu aja gw cuekin krn gw 'gk tahu malu' jadi gw gk kasih tempat duduk krn gw lagi cape bgd waktu itu. Krn perjalanan agak lama maka tanpa sadar gw bengong mikirin sesuatu (mikirin siapa HAYOOO!!). Tiba2 enak2 ngelamun gw tiba2 notice laki2 nerd di depan gw itu kaya foto gw !!! terus pas gw ngeliat dia langsung dia belaga sms gitu. Yah tentu aja gw kirain gw salah kira jadi gw lanjut ngelamun lagi.

Setelah ngelamun beberapa saat, tiba2 gw notice lagi tuh laki2 NERD kembali video/foto gw kamera hpnya itu nyorot gw. Dalam hati gw langsung takut, gila direkam sama LAKI !!!!! what the kalo ce okelah gw ngerti muka gw keren krn indo gw byk yg ngejar tapi kalo LAKI!!! gw gk perlu bangga direkam LAKI. Banyak pikiran berkecamuk dalam hati gw tapi gw langsung memutuskan gw turun di stasiun berikutnya biarpun bukan stasiun tujuan gw. Pas turun gw udah takut aja tuh NERD ngejar gw terus gk lucu bgd gw tar dikejar2 HOMO sambil bawa-bawa koper dan teriak2 "TOLONG2 ADA HOMO YG NGEJAR GW !!!" Yang untungnya berakhir bahagia dia gk turun dan gw gk perlu teriak2 kaya org idiot gitu. Itulah sekilas pengalaman thriller gw di Jepang jadi ingat di negara org pun kita tetap harus waspada akan ketampanan kita. Waspadalah waspadalah !!!!

Saturday, July 14, 2007

Ketika aku masih kecil dan bebas,
dan imajinasiku tidak ada batasnya, aku
mengimpikan untuk mengubah dunia;

Ketika aku semakin besar dan
semakin bijaksana, aku sadar bahwa
dunia tidak mungkin diubah

Dan aku putuskan untuk mengurangi
impianku sedikit dan hanya mengubah
negaraku. Tetapi itupun tampaknya
tidak mungkin

Ketika aku memasuki usia senja,
dalam suatu upaya terakhir , aku berusaha
mengubah keluargaku sendiri, mereka
yang paling dekat dengaku, tetapi sayang,
mereka tidak menggubrisku

Dan sekarang menjelang ajal, aku sadar
(mungkin untuk pertama kalinya) bahwa kalau
saja aku mengubah diriku dulu, lalu dengan
teladan mungkin aku bisa mempengaruhi
keluargaku, dan dengan dorongan serta
dukungan mereka mungkin aku bisa membuat
negaraku menjadi lebih baik, dan siapa tahu,
mungkin aku bisa mengubah dunia

Dikutip dari tulisan uskup Anglikan

Sunday, April 29, 2007

*Saat kau MENYUKAI seseorang,kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.
*Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.
*Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

*Saat kau MENYUKAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku menciummu?"
*Saat kau MENYAYANGI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku memelukmu?"
*Saat kau MENCINTAI seseorang dan berada di sisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya...

*SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "Sudahlah, jangan menangis."
*SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.
*CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama."

*SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, "Ia sangat cantik dan menawan." *SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu. *CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata, "Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."

*Pada saat orang yang kau SUKA menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.
*Pada saat orang yang kau SAYANG menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.
*Pada saat orang yang kau CINTAI menyakitimu, kau akan berkata,"Tak apa dia hanya tak tahu apa yang dia lakukan."

*Pada saat kau SUKA padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.
*Pada saat kau SAYANG padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.
*Pada saat kau CINTA padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus...

*SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.
*SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.
*CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimanapun keadaannya.

*SUKA adalah hal yang menuntut.
*SAYANG adalah hal memberi dan menerima.
*CINTA adalah hal yang memberi dengan rela

Sunday, April 22, 2007

Shell.... jika gw mendengar kata tersebut maka yg teringat di dalam otak gw pertama kali adalah sebuah oli yg untuk mesin. And saking bagusnya mnrt versi gw, gw sendiri memakainya di motor satria gw yg dulu krn skrg gw pake oli federal gembel yah itung2 gpp jg sih krn gratis ini. Makanya gw cukup kaget melihat tempat isi bensin bertuliskan Shell. Tidak lama kemudian membaca di sebuah surat kabar terkemuka di jakarta, ternyata Shell 'hanya' menjual bensin beroktan tinggi (baca: bensin mahal). Kenapa hal ini bisa terjadi? krn pertamina hanya memberi izin kpd shell utk menjual bensin yg 'selevel' dgn pertamax. Semua ini agar pertamina tetap memegang kendali bensin dalam negeri.

Stelah sekian lama ingin mencoba tapi tidak kesampaian terus, akhirnya kmrn gw mencoba sendiri isi bensin di sana. Pom bensin yg terletak di dekat trisakti itu cukup besar. Kesan pertama dari pom bensin ini yg sangat jauh berbeda dgn pertamina. Jika pertamina hanya memiliki sedikit sekali tempat isi bensinnya (gw gk taw namanya apa). Maka shell sangat berbeda, suasana yg sangat nyaman and tempat isi bensin yg sangat banyak sehingga kita tidak perlu mengantri utk mengisi bensin. Dan pertama kali masuk ada petugas yang memberi petunjuk tempat untuk mengisi motor (perhatian: masih motor, blm mobil T_T) setelah sampai petugas dengan ramah bertanya maw isi berapa ltr. Cukup syok jg melihat 1 liter ada yg 5700 dan 6100 sebenarnya itu reasonable krn harganya sama dengan harga pertamina. "full tank" jawabku. And diisi sampe angka 175600. Lalu ada 2 hal yg cukup membuat terkejut. yg pertama setelah selesai langsung keluar struk otomatis, yang kedua petugasnya mengembalikan 400 perak !!! pengalaman di pertamina dia memakai pembulatan ke atas jadi tidak ada 100 perak seperti itu.

And temen gw yg ngisi di sono bilang jg dia pernah ditawari stiker gratis dari shell and lalu isi angin GRATIS !!! dan jg air aki GRATIS !!! . Jika mobil maka kaca mobil jg akan dilap, dengan servis seperti ini siapa yg tidak akan kembali ke sana lagi. Skrg kualitas bahan bakarnya, setelah gw coba perasaan tarikan jadi sedikit lebih 'berat' sempat agak kecewa jg krn dgn service seperti itu harusnya bahan bakar jg bagus mana di pom bensin ada tulisan ' quality control kami selalu mejaga kualitas asdfasdf' ternyata setelah memakai cukup lama, bahan bakar sangat irit sekali dibanding pertamina.

Kekurangan yg cukup vital adalah belum banyak pom bensin sehingga sangat susah mengisi ulang.Sampai gw hanya pernah lihat 5 pom bensin saja dan itu semua kebanyakan di daerah jkrt pusat. Mungkin ini sebabnya masih banyak pengendara yg blm maw berganti 'haluan'. Harga jg cukup menjadi kendala utk mengganti bahan bakar. Harga yg relatif mahal buat kebanyakan org indonesia yg notabene mementingkan hrg dibanding kualitas.

Kesimpulannya saat ini memang shell blm merupakan ancaman nyata tapi gw yakin cepat ato lambat jika pertamina pelayanan masih seperti ini (baca: servis buruk dan banyak melakukan kecurangan) maka shell akan menggantikan posisi pertamina sebagai raja bahan bakar di indonesia.

Tuesday, April 03, 2007

Shibuya Guide - Shibuya Tokyo is the trendy and fashionable shopping district of Tokyo. Our Shibuya guide covers Shibuya Hotels, Shibuya sight seeing, shopping and Shibuya restaurants.

See Also:
Shibuya Hotels
Shibuya Pictures
Shibuya Shopping

Shibuya is a shopping and eating district popular with a lot of young Tokyoites. It's within walking distance from two other large shopping districts - Omotesando and Harajuku - as well as being quite close to Yoyogi Park and the Meiji Jingu shrine.

Shibuya Hotels

Looking for accommodation in Shibuya Tokyo?
Please support our site by using our Shibuya Hotels reservation system.

Shibuya deserves a prize as the district with more two-storey video screens than any other area in the world.

Shibuya
A giant TV screen above "Star Bucks" opposite Shibya Station.

Most of the action in Shibuya is in the hectic blocks to the northwest of the JR station. The best place to get oriented is the Hachiko exit, which opens onto the six-way "scramble crossing" under the giant television screen. From left to right at the edges of the square are...

  1. Keio Inokashira line station
  2. Dogenzaka slope
  3. 109 building
  4. Bunkamura-dori (street)
  5. Center-gai (street)
  6. Q-FRONT building featuring a large Starbucks
  7. Koen-dori (street)
    Inokashira-dori, branching to the left after the Seibu Department Store
  8. 109-2 building
  9. JR line tracks to Harajuku.

The area to the south of the station is bounded by a highway, so there's not much more than bus terminals (on both sides) and the Tokyu Plaza department store.

The two major roads heading east from the station continue to Aoyama and Roppongi.

Shibuya
The crowded sidewalks of fashionable Shibuya

Getting to Shibuya

By train
Shibuya's station is a notoriously convoluted web of passageways. Follow the signage and you should find your way out (or in).

JR Yamanote, Saikyo Line
Tokyu Toyoko, Den-en-toshi Line
Keio Inokashira Line
Tokyo Metro Ginza Line (G01), Hanzomon Line (Z01)

What to See in Shibuya

Hachiko

Hachiko is a famous statue of a dog who possessed legendary loyalty to his owner. It is also the name of one of the many exits from Shibuya Station and the prime meeting place before a night out. Just hanging out near Hachiko for a while will give you some great people-watching opportunities.

Hachiko belonged to
Professor Ueno Saburo’s, who loved Hachi a lot. Hachi always went to see the master off and wait for his return at the Shibuya station everyday even in terrible weather. After the Professor's death, Hachi continued to wait at the station for his master's return.

Statue of Hachiko - the faithful dog. Picture by Fg2

Center Gai, the narrow street leading away from the station to the left of the giant video screen, is famous as the birthplace of many of Japan's youth fashion trends. Center Gai is jam-packed with clothing stores, music stores, and video game arcades.

The Bunkamura complex (Bunkamura-dori) has an excellent art museum, in addition to theatres for film and stage plays. On the basement floor there's art and design bookstore as well as a branch of Paris' famous Les Deux Magots café.


The crowds of Shibuya attracts companies like Sony Ericson
to promote their latest and most fashionable products.


Museums
Tobacco and Salt Museum, Jinnan 1-1 6-8 (on Koen-dori). This peculiar institution owes its existence to Japan's peculiar government monopoly on these two substances. Temporarily closed from September 2004. http://www.jti.co.jp/Culture/museum/Welcome.html

What to do in Shibuya

There are movie theatres and electronics stores nearby.

Shibuya is a major center for nightclubs, music, and dancing.

Magically shielded from decades of commercial development, Nonbei-yokochō (のんべい横丁) is a narrow alley running alongside the east side of the Yamanote tracks just north of the station. It's packed with traditional yakitori taverns as well as some modern, extremely tiny bars. The district was formed in 1955, and a few of the shops have been operating since then.

(Article based on Wikitravel article by Based on work by Paul N. Richter and Brian Kurkoski and Wikitravel user(s) Jpatokal, Natsu and Nzpcmad. Article used under Creative Commons Attribution-ShareAlike 1.0.)

Guide to Tokyo Disneyland

The Tokyo Disney Resort (東京ディズニーリゾート) in Chiba, Japan is a vacation and recreation resort opened in 1983. Comprising of Tokyo Disneyland (東京ディズニーランド) and Tokyo Disneysea (東京ディズニーシー) theme parks, five hotels and the Ikspiari (イクスピアリ) shopping complex, it is the most annually-visited theme park complex in the world.

Understanding Tokyo Disneyland

1 Day Pass: You can enter Tokyo Disneyland or Tokyo Disneysea all day long with this ticket, but not both. ¥5500/4800/3700 for ages 18+/12-17/4-11.
After 6 Pass: You can use this ticket from 6:00 PM on weekdays. It is sold from 5:00 PM for ¥2900 (all ages).
Before you enter this park, your bag will be inspected by a clerk, but you don't need to show your ID card.

Tokyo Disneyland Cinderella castle
Tokyo Disneyland Cinderella castle

Getting to Tokyo Disneyland

By train
From Tokyo Station, take the JR Keiyo Line to Maihama (舞浜), which is adjacent to the park. The rides takes about 15 minutes (¥210) on an express train.

By car
From Tokyo and the Yokohama region, follow the coast of a bay to Chiba, exit at the Urayasu ramp and then go out at Route 357, go straight on the road about 1km, make a U-turn at Mihama Rittai Road (美浜立体道路). Then, you just follow the signs.

The Tokyo Disneyland parking lot is huge and can take about 8000 cars. In the parking lot, there are four signs: (M) Mickey, (D) Donald, (G) Goofy, (P) Pinocchio. So, if you remember the space where you parked your car, you can find it soon when you go back. The parking fee is ¥2000. If you want to know more information about the car park and the circumstances of surrounding streets, you can contact the Tokyo Disney Resort information line at 045-683-3011.

By bus
Hotels around Disney have free transportation service to Disney Resort.

Long distance bus services come here from all over Japan.

Get around Tokyo Disneyland

The four-station Disney Resort Line monorail connects Maihama Station to Tokyo Disneyland, Tokyo Disneysea and Tokyo Bay NK Hall plus the resort hotels. The fare is ¥200/100 for adults/children and the Passnet stored value card can be used. Note that, if going to Disneyland, it's probably easier and faster to just walk from the station.

See
Of course, you can see the same Disney characters, a castle, and mountains, and magic performances as at other Disney Parks. The seaside does make this park a bit different from the others. And, the people-watching is great.

Do
The two theme parks, Disneyland and Disneysea, compliment each other. Disneyland is the most visited theme park in the world, with Disneysea following at a close second. The two major symbols, Cinderella Castle at Disneyland and Mount Prometheus at Disneysea are exactly the same height, and from Ikspiari you can see them both.

Drink
Most drinks are soft drinks. However, you can also get alcoholic beverages in some places inside the park.

Wednesday, January 10, 2007

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.
Kantor pemerintahan dan pelayanan publik
Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mere! ka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.
Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.
Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang beruntung.
Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum, menyangkut kehormatan di negara ini.
Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.
Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.
Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.
Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).
Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan bahwa everything is ok.
Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.
Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan metafora.
Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau.
Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.
Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni. Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan.
Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota tubuhnya sendiri.
Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan
dialog dengan dokternya.
Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.
Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
Kesehatan dan rumah sakit
Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan Jepang.
Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang.
Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.
Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

doc;
Yuli Setyo Indartono
Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and Technology, Kobe University, Japan.
Peneliti Istecs dan Ketua Teknologi Energi INDENI www.indeni.org.
E-mail: indartono@yahoo. com